KKMUS, 18 November 2024 – Koperasi sering dianggap sebagai solusi pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, tetapi tidak jarang juga mendapat pandangan negatif yang menghambat potensinya. Sejumlah mitos, seperti anggapan bahwa koperasi sulit berinovasi atau memiliki keterbatasan modal, terus melekat. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa koperasi yang dikelola secara profesional mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan anggotanya dan perekonomian lokal.

Mitos 1: Koperasi Sulit Berinovasi
Banyak yang menganggap koperasi terlalu kaku dan lambat dalam mengadopsi teknologi baru. Namun, fakta membuktikan sebaliknya. Contohnya adalah Koperasi Konsumen Mitra Usaha Sadaya di Tasikmalaya, yang telah mengadopsi digitalisasi untuk meningkatkan layanan keanggotaan. Melalui platform online, koperasi ini mempermudah proses pendaftaran anggota dan memperluas jangkauan pemasaran unit usahanya seperti minimarket dan toko pertanian.

Mitos 2: Keterbatasan Modal Menghambat Operasi Koperasi
Anggapan ini sering muncul karena koperasi tidak memiliki akses permodalan yang setara dengan perusahaan besar. Namun, koperasi yang menerapkan manajemen keuangan yang baik mampu mengatasi tantangan ini. Contoh nyata adalah keberhasilan beberapa koperasi dalam memanfaatkan dana internal, seperti simpanan anggota, untuk mendanai program-program produktif seperti pinjaman usaha atau investasi di sektor riil. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga keuangan mikro atau pemerintah dapat membuka akses permodalan yang lebih luas.

Mitos 3: Keanggotaan Koperasi Tidak Memberikan Keuntungan Nyata
Ada persepsi bahwa menjadi anggota koperasi hanya sekadar formalitas tanpa manfaat langsung. Fakta di lapangan menunjukkan koperasi dapat memberikan keuntungan nyata bagi anggotanya melalui program simpan pinjam, pembagian SHU (Sisa Hasil Usaha), dan dukungan usaha. Contohnya, koperasi yang menyediakan produk tabungan berjangka seperti “Tamasya” di Koperasi Mitra Usaha Sadaya, membantu anggotanya menabung untuk kebutuhan jangka panjang dengan sistem yang aman dan transparan.

Solusi dan Dukungan untuk Koperasi yang Lebih Kuat
Untuk melawan mitos-mitos tersebut, koperasi perlu terus memperbaiki manajemen, meningkatkan edukasi anggota, dan menjalin kerjasama dengan pihak eksternal. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendukung koperasi melalui pelatihan, regulasi yang kondusif, dan akses pembiayaan.

Ketua Koperasi Mitra Usaha Sadaya, Iwan, menegaskan pentingnya perubahan paradigma terhadap koperasi. “Koperasi bukan lagi sekadar organisasi tradisional, melainkan sebuah entitas bisnis yang mampu bersaing jika dikelola secara profesional. Melalui koperasi, anggota dapat merasakan manfaat ekonomi sekaligus membangun solidaritas komunitas,” ujarnya.

Dengan melawan mitos dan menguatkan fakta, koperasi memiliki potensi besar untuk mendorong pemberdayaan ekonomi dan menciptakan perubahan nyata di masyarakat. Saatnya masyarakat melihat koperasi sebagai pilar penting dalam pembangunan ekonomi, bukan sekadar alternatif.(E1)